Showing posts with label Artikel. Show all posts

AMANAT MENTERI SOSIAL RI PADA UPACARA BENDERA MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER 2015


AMANAT MENTERI SOSIAL RI
PADA UPACARA BENDERA
MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN
 10 NOVEMBER 2015



Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera bagi kita semua. Saudara-saudara para peserta upacara yang berbahagia,

Mengawali amanat ini, marilah kita berdo'a seraya bersyukur kehadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan karunia-Nya sehingga kita semua seluruh bangsa Indonesia, di manapun berada dapat memperingati kembali Hari Pahlawan 10 November 2015.

Peringatan Hari Pahlawan tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan R[ ke-70, suatu usia kemerdekaan yang cukup matang untuk ukuran sebagai bangsa yang dewasa dalam bernegara.
Saudara-saudara para peserta upacara yang berbahagia,

Peringatan Hari Pahlawan dapat dijadikan sebagai cermin atau refleksi tentang pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai harapan masa depan dengan terus bekerja dan bekerja dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera sebagai cita-cita perjuangan bangsa yang termuat dalam sila kelima Pancasila yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, juga sebagai momentum dalam rangka menumbuh-kembangkan nilai-nilai persatuan, kepahlawanan, keperintisan, dan kesetiakawanan sosial.

Oleh karena itu, nilai kepahlawanan sejatinya tidak akan pernah usang atau lekang dimakan zaman karena pada setiap waktu dapat diimplementasikan dan direvitalisasi dari generasi ke generasi sepanjang masa sesuai perkembangan zaman.

Untuk itu penyelenggaraan peringatan Hari Pahlawan selalu menjadi penting, karena dapat digunakan sebagai barometer tentang seberapa kuat keyakinan kita terhadap nilai-nilai kejuangan dari suatu proses kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selain itu, juga sebagai salah satu bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan dan pejuang untuk mewujudkan kemerdekaan dan menjaga tetap utuhnya negara kesatuan Republik Indonesia.

Saudara-saudara para peserta upacara yang berbahagia,

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2015 difokuskan untuk membangun kesadaran dan ingatan kolektif seluruh bangsa Indonesia sebagai representasi pengakuan, penghormatan, dan penghargaan dari nilai-nilai kejuangan untuk diimplementasikan dalam kehidupan bernegara pada waktu kini dan akan datang.

Hari Pahlawan tahun 2015 ini mengambil tema "Semangat Kepahlawanan Adalah Jiwa Ragaku”. Makna dari tema tersebut adalah untuk menginternalisasi jiwa semua anak bangsa agar nilai kepahlawanan terpatri dan merasuk ke dalam sanubari yang paling dalam untuk meneladani sifat-sifat kepahlawanan yaitu rela berkorban, tanpa pamrih, bekerja keras, jujur, berani demi kebenaran serta patriotik.

Saat ini bangsa Indonesia masih menghadapi tantangan persatuan, keutuhan dan, produktifitas bangsa. Mulai dari terjadinya konflik intoleransi antar umat beragama, berkembangnya faham radikalisme, tawuran antar kampung maupun antar pelajar, maraknya penyalahgunaan narkoba, kekerasan terhadap anak dan perempuan dan sebagainya. Keadaan ini jauh dari apa yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pendiri bangsa yang telah mewariskan Negara Kesatuan Republik Indonesia kepada kita semua.

Saudara-saudara para peserta upacara yang berbahagia,

Marilah kita renungkan sekali lagi, langkah besar Bapak Bangsa kita seperti Soekarno, Mohammad,Hatla, Wahid Hasyim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Mudzakkir, Agus Salim, Abikusno Tjokrosoejoso, AA.Maramis, dan Ahmad Subarjo yang terhimpun dalam Panitia Sembilan BPUPKI. Mereka telah mewariskan lima norma dan nilai-nilai yang kemudian menjadi Pancasila sebagai dasar negara, sebagai ideologi pemersatu bangsa, juga sebagai spirit kegotong-royongan dalam bermasyarakat dan bernegara.

Langkah besar dan semangat kepahlawanan para pendiri bangsa itulah yang perlu di-diseminasikan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan penguatan semangat dalam menghadapi setiap tantangan dan ujian yang dihadapi negeri ini.

Untuk itu marilah momentum ini kita jadikan satu langkah baru untuk membangun keyakinan dan optimisme kita sebagai warga bangsa untuk dijadikan landasan revolusi karakter bagi bangsa Indonesia menjadi negara maju dan bermartabat.

Demikian, semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk dan melindungi bangsa Indonesia serta menganugerahkan jalan keluar dari segala masalah yang sedang kita hadapi. Masyarakat kita dapat hidup rukun, damai, sejahtera, dan harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sekian dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


                               Jakarta, 9 November 2015

                                       Menteri Sosial RI,

 
                                     Kofifah Indar Parawansa



                                           


Florence, Pak Jokowi dan Sujudin yang Meninggal di SPBU

Florence, Pak Jokowi dan Sujudin yang Meninggal di SPBU

Beberapa hari terakhir sepertinya publik tanah air dibuat  terperangah dengan dengan berbagai rentetan peristiwa yang memaksa kita untuk kembali menghela nafas panjang, merenung dan kemudian menyadari bahwa kita perlu segera berbenah.

Diawali dengan kasus Florence ‘Ratu SPBU’ dari Jogja, yang karena merasa tidak terima dengan perlakuan petugas yang menolak mengisi BBM karena ia dengan sadar MEMOTONG jalur antrian, dengan ringannya mengumpat masyarakat Jogja dan  Sultan melalui akun sosial Path dan Twitter, tentu saja tindakan Vandalisme Verbal tersebut menyulut kemarahan masyarakat Jogja. Sebenarnya memenjarakan Flo tak bijak juga, karena masih banyak Florence-Florence lain di Indonesia, yang menjadikan akun Sosial sebagai “kotak sampah” pribadinya, padahal jika berbicara ranah sosmed, kita tidak mengenal istilah privasi, semua informasi beredar secara sporadis. Belajar dari Flo, kita harus lebih bijak menggunakan jejaring sosial, terutama semenjak adanya UU ITE yang sedikit “membelenggu”, tetapi memang pada khitahnya bukankah Prof.Noorsyam sudah menjelaskan bahwa filsafat Hak Asasi Manusia di Indonesia disandarkan kepada Kewajiban Asasinya.

Beralih dari Florance 'Ratu SPBU', masih seputar BBM, beberapa hari belakangan publik juga dibuat galau dengan manuver yang dilakukan oleh Presiden terpilih kita Ir.Jokowidodo, beliau secara tersirat “membujuk” Presiden SBY ketika bertemu di Bali untuk mau menanggung beban politik untuk mengurangi subsidi BBM sebelum Pak SBY lengser keprabon. Hal ini cukup menarik karena 10 tahun belakangan kita meyaksikan bahwa PDI-P merupakan partai yang paling getol menolak kenaikan harga BBM. Manuver ini seakan meruntuhkan argumentasi yang telah dibangun bertahun-tahun oleh Partai berlambang banteng ini tentang bahwa mengurangi subsidi bbm bukan langkah terbaik dalam menutupi devisit APBN, banyak alternatif lain yang bisa dilakukan, publikpun bertanya dimana kini alternatif yang pernah disebut-sebut banyak tersebut?.
       
           BBM sebagai sumber energi yang teramat vital memang menjadi isu strategis dibelahan bumi manapun, termasuk di Indonesia, Isu ketahanan energi memang tak pernah kehilangan pesonanya. Ketahanan energi, paling sederhananya, berhubungan dengan mengamankan energi masa depan suatu bangsa dengan cara mendapatkan sumber daya energi yang stabil dan berkecukupan dengan harga terjangkau. Terdengar cukup sederhana namun di bawah permukaan definisi simpel ini terselubung gunung persoalan yang kompleks yang harus kita pecahkan. Kegagalan untuk melakukannya berisiko membahayakan masa depan energi kita untuk jangka waktu yang lama.

Mari penulis jelaskan  maksud dari kata “membahayakan” diatas: Konsumsi energi primer kita telah meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2000 hingga 2010. Kini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia sekitar 1,2 juta barel per hari, sedangkan tingkat produksinya berkisar 900 ribu barel per hari sehingga sisanya dipenuhi dari impor.

           Dari sisi cadangan, pada akhir 2011, total cadangan minyak Indonesia hanya sekitar 2 persen dari cadangan total minyak dunia yang mencapai 1.652 miliar barel. Saat ini, cadangan minyak terbukti di Indonesia 3,6 miliar barel, dan 53 persen sisa cadangan itu terletak di lapangan-lapangan skala besar. Sejauh ini cadangan minyak nasioanl terus terkuras. Pda 2012, rasio cadangan minyak terhadap produksi hanya 52%. Padahal, semestinya setiap produksi 1 barel miyak digantikdan temuan cadangan minyak dengan jumlah yang sama pula.

Dibawah kepemimpinan Presiden baru, diharapkan pemerintah kita bisa lebih “move on” dari ketergantungan BBM dan bisa fokus dalam mengembangkan energi alternatif dan perbaikan infrastruktur yang menjadi tulang punggung bagi transportasi kebutuhan pokok penduduk Indonesia. Kita harus faham bahwa cadangan minyak kita tak sekokoh Rusia maupun Iran, oleh karena itu MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Perkembangan Ekonomi Indonesia) harus di drive untuk pengembangan energi alternatif disetiap kawasan, serta membangun infrastruktur transporasi masal yang lebih terjangkau dan tak bergantung pada BBM. Pembangunan jalur kereta api trans-Sumatera, Kalimantan, Sulawei dan Papua,serta pembangunan pelabuhan barang harus segera dirintis, sehingga distribusi komoditas barang-barang pokok tidak lagi bertumpu pada jalur darat konvensional (Bus/Truk), sehingga pengurangan subsidi BBM tidak lagi memicu inflasi yang merepotkan masyarakat menegah kebawah.

Kisah terkahir ialah mengenai Pak Sujudin di Kediri, ia merupakan sebuah balada pilu yang menjadi pertanda siaga merah bagi kita, pemerintah, untuk segera membenahi pengelolaan energi di Negri ini. Pak Sujudin merupakan korban meninggal pertama karena kelangkaan BBM di Indonesia, ia berpulang kerahmatullah saat sedang mengantri di SPBU pada Sabtu 30/08/2014. Dibawah kepemimpinan pemerintahan yang baru, publik tentu berharap dan mendoakan, nahkoda baru kita Bapak Ir.Jokowidodo dapa membenahi permasalaha yang krusial ini.

Semoga saja..

Wasalam.(Bang Zul)




MENJADI KARTINI YANG CUT NYAK DIEN

Menjadi KARTINI yang CUT NYAK DIEN
(Oleh: Zulfikri Armada, S.IP)



Mengenal Kartini dan Cut Nyak Dien
           
R.A. Kartini dan Cut Nyak Dhien
            Pada tanggal 21 April nanti, Perempuan disegenap penjuru tanah air akan memperingati kembali hari lahir salah seorang sosok/ikon atas perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Sosok tersebut tidak lain dan tak bukan adalah Raden Ajeng Kartini. Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak kita ialah syapa sebenarnya R.A. Kartini ini.
           
            R.A. Kartini lahir di Desa Mayong Kabupaten Jepara pada tanggal 21 April 1879, Ia adalah putri dari seorang Bupati dan hidup berkecukupan layakanya seorang bangsawan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa yaitu Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah itulah, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa, sehingga Kartini mempunyai modal untuk bisa membaca dan menulis.
           
            Kemampuannya untuk mengejawantahkan pemikiran serta kritiknya atas situasi sosial-budaya-agama yang dihadapinya kedalam tulisanlah yang selanjutnya membuat Kartini di Kenang. Hasil korespodensi surat antara kartini dengan sahabat penanya di Belanda yang sebagian berisikan kritik dan kegelisahan hati atas budaya Jawa yang membatasi ruang gerak wanita (memingit mereka didalam rumah saja), sehingga Kartini merasa kaum wanita termarjinalkan dalam hal pendidikan dan kehidupan sosial. Kumpulan surat-surat Kartini tersebutlah yang kemudian disusun oleh Mr. J.H. Abendanonmenamai, dan diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini kemudian diterbitkan pada tahun 1911.

            Kemudian, selain RA Kartini, ada juga Srikandi Indonesia lainnya yang patut kita tauladani, beliau adalah Cut Nyak Dhien. Lain halnya dengan R.A. Kartini, perjuangan Cut Nyak tidak sebatas emansipasi wanita semata, tetapi yang ia perjuangkan lebih luas daripada itu, ia berjuang demi kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa Indonesia dari Imperialisme Kaphee Belanda (Sebutan Cut Nyak bagi orang Belanda) secara utuh, baik lahiriah maupun bathiniah. Cut Nyak lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848. Dari keturunan bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar.

Ketika Perang Aceh meluas tahun 1873, Cut Nyak Dien memimpin perang di garis depan, melawan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap. Setelah bertahun-tahun bertempur, pasukannya terdesak dan memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil. Dalam pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim gugur.

Mendapatkan cobaan sebegitu hebat, Cut Nyak seakan tak gentar, semangatnya tetap berapi-api untuk mengusir Kaphee Belanda dari Indonesia. Ia terus melanjutkan perjuangan dengan Suami Keduanya Teuku Umar. Beliau terus bertempur hingga dimasa tuanya ia tertangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Sumedang Jawa Barat.

Kedua sosok Srikandi Indonesia tersebut sebenarnya telah memberikan pesan kepada para kaum Hawa tentang konsepsi emansipasi wanita yang ideal. Yang satu bergerak melalui pemikiran dan pendidikan, yang satunya lagi bergerak dalam kancah pengimplementasian gagasan dan cita-cita secara lebih konkrit da nyata.


Emansipasi VS Kesetaraan Gender

Jika dilihat dari  sejarah,    konsep ”Emansipasi “  itu muncul sejak  adanya Deklarasi  Hak-Hak Azazi Manusia pada  tahun 1984, karena pada saat itu perlakuan dari kaum laki-laki yang saat mendominasi dan memarjinalkan perempuan, maka pada tahun 1963  melalui badan Ekonomi PBB (ECOCOC) konsep Emansipasi ini dideklarasikan. Dilanjutkan dengan  World Conference International Year of women PBB di Mexico City tahun1975, muncul beberapa ketentuan tentang  persamaan hak yang diinginkan antara lain tentang; pendidikan, pekerjaan, pembangunan bagi kaum perempuan, partisipasi dalam pembangunan, tersedianya data dan informasi perempuan serta analisis perbedaan peran berdasarkan jenis kelamin, dan untuk mewadahi aktifitas kegiatannya dilakukan melalui  Women In Development (WID). 

Dalam konteks Indonesia baik secara kultur maupun kelembagaan sebenarnya kita tidak terlalu asing dengan konsep emansipasi. Catatan sejarah menyatakan bahwa kerajaan Majapahit yang kekuasaanya meliputi hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa dibagian utara dan Madagaskar di barat, ternyata dalam silsilahnya pernah dipimpin oleh 2 dua perempuan masing-masing “Tribhuwanatunggadewi (1328-1350) M”. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.

Emansipasi artinya memberikan hak yang sepatutnya diberikan kepada orang atau sekumpulan orang di mana hak tersebut sebelumnya dirampas atau diabaikan dari mereka. Dimana refleksi emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini adalah untuk membawa perubahan besar kepada perempuan Indonesia, yaitu perjuangan menuntut hak pendidikan bagi perempuan. Karena kita ketahui bahwa dizaman dahulu, pendidikan bagi perempuan ataupun kaum pribumi adalah hal yang sangat tabu dan sangat susah untuk dicapai.  Begitupun dengan Cut Nyak Dien yang maju sebagai tokoh sentral dalam usaha mempertahankan harkat dan martabat dari penjajahan kaum Belanda hinnga titik darah penghabisan, tidak hanya bagi kaumnya tetapi seluruh bangsa Indonesia dalam satu kebulatan.

Sedangkan kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara dimana antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi  (kualitas hidup) adalah sama. Gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.

Dari pemaparan diatas jelas tampak perbedaan antara emansipasi dan kesetaraan gender. Dewasa ini banyak kaum feminist yang menggembar-gemborkan kesetaraan Wanita dan Pria. Menurut penulis dari tinjuan teologis dan kulutral wanita tidak bisa berpaling dari kodratnya sebagai wanita seutuhnya, yaitu peran ia sebagai seorang istri dan seorang ibu, yang tentu saja fungsi tersebut merupakan unifikasi alamiah yang diamanahkan Tuhan kepada kaum hawa. Pria dan Wanita tentu saja boleh dipandang sebagai partner yang sejajar hak dan kewajibannya, akan tetapi menyamakan secara total seluruh hak, kewajiban dan peranan antara Pria dan Wanita tentu saja sebuah kesalahan sintesis dalam berfikir.  Spirit emansipasi yang harus kita pelihara dewasa ini adalah perlawanan terhadap budaya “kolot” yang tak memberikan banyak hak kebebasan perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri dan spirit tentang penghilangan diskriminasi bagi perempuan. Sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Kartini dan Cut Nyak.


Peringatan Hari Kartini, hiruk-pikuk tanpa esensi

            Dalam Islam perempuan diwajibkan menggenakan jilbab, hal ini menurut penulis, secara tersirat merupakan revolusi besar terhadap cara seluruh semesta memandang wanita. Dahulu dizaman jahiliah wanita hanya dijadikan objek keindahan dan pelampiasan hasrat durjana dari kaum Pria. Kemudian Islam datang memberikan antithesa atas kesesatan yang telah terjadi, Wanita diagungkan kedudukannya, jilbab selain kewajiban, juga merupakan pesan bahwa wanita tidak boleh dipandang sebagai objek keindahan karena fisiknya semata, tetapi yang harus diutamakan dan dihormati adalah akhlaq, budi-pekerti, pemikiran, idealisme serta visi kehidupan yang ia punya.
           
            Begitupun selanjutnya dengan R.A Kartini dan Cut Nyak Dhien, perjuangan mereka menitikberatkan kepada perlawanan terhadap dehumanisasi baik itu kepada perempuan secara khusus dan keseluruhan elemen bangsa secara umum.

            Karena mampu membaca surat kabar dan majalah kartini bisa mengetahui berbagai macam kemajuan-kemajuan yang dimiliki oleh kaum wanita di Negeri Belanda, hal itulah yang menimbulkan dan membangkitkan pemikiran-pemikiran beliau. Karena semangat anti keterjajahan dan ideologi yang teguhlah lantas Cut Nyak Dhien tak gentar angkat senjata mengusir belanda. Pertanyaanya sekarang, lantas apa yang dilakukan perempuan-perempuan muda Indonesia dalam meperigati Woman’s Day (Hari Kartini)?

            Sebuah keprihatinan yang sangat mendalam bahwa sebagian besar hanya memperingatinya dengan berkebaya-ria dalam satu hari saja. Bahkan dilembaga pendidikan sebesar IPDN-pun tak luput dari perayaan tanpa esensi. Sudah menjadi sebuah tradisi setiap hari kartini akan diadakan pemilihan Putri Nusantra, yang katanya dinilai dari 3 aspek: brain, beauty, and behaviour. Sejarah kembali terulang wanita bangga dijadikan objek keindahan karena lahiriahnya, fisiknya, parasnya. Hal ini merupakan bentuk resistensi dari semangat Kartini maupun Cut Nyak Dhien yang berusaha mengeluarkan perempuan dari “kekolotan nilai” yang di-amini oleh masyarakat pada saat itu.

            Momen Hari Kartini pada tahun ini, semoga bisa menjadi titik renungan bagi seluruh kalangan, para feminist, pejuang emansipasi, dsb. Untuk kembali mendudukkan spirit emansipasi ketataran ideal sebagaimana yang diperjuagkan oleh para Srikandi Indonesia, perempuan Indonesia harus maju, perempuan Indonesia tentulah harus cerdas, ia boleh mengaktualisasikan dirinya, setinggi yang ia mau, tetapi jangan lupa tugas lebih penting lainya bahwa ia adalah calon ibu bagi anak-anaknya (garda terdepan dalam membina generasi, fondasi dari sebuah peradaban), ia adalah istri bagi suaminya (penopang dikala lelah, pendorong untuk mencapai asa), ia adalah matahari bagi peradaban Indonesia yang mandani.

Wanita Indonesia jangan ragu  untuk menjadi Kartini yang Cut Nyak Dhien! (ZA)



             




Koalisi Partai Islam: Mungkinkah?

Koalisi Partai Islam: Mungkinkah?
(Oleh. Zulfikri Armada, S.IP)

            Artikel ini berangkat dari sebuah pertanyaan sederahana dari sahabat saya ketika kami sedang melihat perkembangan hasil quick count pemilu 2014 di Televisi, “fik, mungkin ngak ya partai islam berkoalisi?” spontan saya menjawab “mungkin saja”. Jawaban sederhana tersebut saya lontarkan karena hasil quick count memperlihatkan jumlah perolehan partai islam (PKS, PAN, PKB, PPP, PBB) yang mencapai 30%, artinya secara teoritik, legalistik dan empiris, dimungkinkan untuk mengajukan pasangan capres dan cawapres sendiri.

            Lebih lanjut pertanyaan tersebut mulai mengusik fikiran saya untuk mengulasnya lebih lanjut, apalagi belakangan mulai ramai juga diperbincangkan kemungkinan “islah” nya partai Islam untuk mampu membangun poros koalisi baru di Pilpres Juli mendatang. Jika kita lebih jeli mengamati pencapaian “fantastis” yang diperoleh pada 9 April lalu, perolehan yang mampu merobohkan semua hasil berbagai macam survey pra-Pileg yang meramalkan bahwa rata-rata partai Islam hanya memperoleh 2-3% suara saja. Sadarkah elit parpol Islam bahwa 2014 ini bisa menjadi momentum kebangkitan mereka.

Parpol Islam Berpotensi Galang Koalisi Mandiri
            Dalam sejarahnya kesatuan partai islam dalam bentuk konvensi baru sekali terlaksana pada  November 1945 yang melahirkan Masyumi sebagai satu-satunya Parpol Islam di Indonesia. Kemudian periode selanjutnya mulai terjadi disharmonisasi, perselisihan dan perpecehan, dengan puncaknya keluarnya Nahdatul Ulama (NU) dari masyumi pada tahun 1952 melalui muktamar NU di Palembang. Babak selanjutnya pada era reformasi, partai islam melalui tangan dingin Amien Rais mampu berkonsolidasi kembali membentuk poros tengah yang akhirnya mengantarkan KH.Abdurrahman Wahid duduk sebagai RI1 pada tahun 1999.

            Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Fachri Ali menilai PKB, PAN, PPP, PKS dan PBB berpotensi mengulang koalisi poros tengah  1999. “Syaratnya koalisi hanya satu, pimpinan lima parpol itu harus punya keberanian mengambil sikap politik”[1]. Dan dalam hal ini penulis sependapat dengan Fachri Ali, harus ada keberaian dan political will yang kuat jika ingin momentum akan kerinduan publik atas corak politik Islam di 2014 ini tidak sekedar berlalu saja.

            Penulis menangkap ada kerinduan dan harapan besar dari publik Indonesia pada partai Islam untuk mampu memberikan warna baru dalam perpolitikan nasional. Kemungkinan “islah Politik” Parpol Islam terbuka lebar dan dengan kekuatan 30% suara pileg potensi untuk menang juga bukan mimpi disiang bolong. Untuk persoalan figur yang bakal diusung, banyak tokoh dengan track record  bersih yang memiliki kedekatan dengan Parpol Islam, sebut saja Anies Baswedan, Mahfud MD, Jusuf Kalla, Hatta Rajasa, Abraham Samad, dsb.

Namun untuk mewujudkan kembali koalisi poros tengah ada beberapa permasalahan yang cukup pelik yang dihadapi antara lain: Parpol Islam cenderung oportunis dan cari aman dalam berkoalisi sehingga lebih suka menempel kepada kubu yang potensial menang;  Kemudian belum ada tokoh kuat yang mampu megkonsolidasikan parpol Islam kedalam satu kekuatan; Selanjutnya, tidak ada unifikasi dalam tataran praktik maupun dalam warna berpolitik para Parpol Islam di Senayan jika dibandingkan dengan Partai Nasionalis, sehingga membuat basis konstituen menjadi tidak kokoh; Sebagian Parpol Islam masih belum mampu “move on” dari kenangan pahit pelengseran Gusdur terlebih lagi kubu PKB.

            Kembali penulis sampaikan jika Parpol Islam memiliki keberanian dan political will yang kuat maka koalisi parpol islam mampu merobah peta perpolitikan secara besar-besaran.  Jika hal ini benar-benar terwujud maka momentum atas kerinduan publik akan corak politik islam bisa terpelihara dalam suasana kebatinan politik yang sangat decisive/menentukan ini. Pertanyaan terakhir dari penulis: “Cukup cerdaskah partai politik Islam menangkap peluang sejarah yang begitu besar ini?”

            Entahlah,,,, Wassalam.(ZA)



[1] Koalisi Islam Tunggu Figur, Republika 12 April 2014

EPISODE INI TELAH BERAKHIR

Suatu hari seorang suami mengadakan perjalanan bersama istri dan anak-anaknya. Dalam perjalanan, mereka berpapasan dengan sebuah sosok. Sang lelaki bertanya kepadanya:

"Engkau siapa?"  

Dia menjawab:   "Aku adalah 'HARTA'

 Maka sang suami bertanya kepada istri dan anak-anaknya:  

"Apa kita biarkan dia bersama kita (dalam mobil) melakukan perjalanan?"

  Istri dan anak-anaknya menjawab:  
"Tentu saja boleh. Dengan keberadaannya memungkinkan kita untuk melakukan apa saja dan mempengaruhi siapa saja sesuai kehendak kita."

Jadilah si HARTA ikut bersama mereka dalam perjalanan tersebut.
Beberapa saat setelahnya, mereka berpapasan dengan sosok lain.  

Suami bertanya kepadanya:
"Siapa engkau?"  

Dia menjawab:  
"Aku adalah KEKUATAN"

 Maka sang suami bertanya kepada istri dan anak-anaknya:  
"Apa kita biarkan dia bersama kita (dalam mobil) melakukan perjalanan?"  

Istri dan anak-anaknya menjawab:  
"Tentu saja boleh. Dengan keberadaannya memungkinkan kita untuk melakukan apa saja dan mempengaruhi siapa saja sesuai kehendak kita."  

Jadilah si KEKUATAN ikut bersama mereka dalam perjalanan tersebut
Begitulah seterusnya, mereka bertemu dengan banyak sosok dan mengajak mereka bersama dalam perjalanan hingga penuhlah mobil dengan syahwat dan kelezatan dunia.  

Beberapa saat kemudian, mereka berjumpa dengan sebuah sosok yang penampilannya berbeda dengan sosok-sosok sebelumnya.  

Suami bertanya kepada sosok tersebut:  
"Engkau siapa?"  

Dia menjawab:  
"Aku adalah AGAMA"  

Lantas suami istri tersebut dan anaknya mengatakan dengan suara kompak:  
"Maaf, ini bukan saatnya. Kami ingin dunia dan kenikmatannya namun engkau akan mengharamkannya untuk kami. Engkau akan mengajak kami menuju keistiqamahan.   Engkau akan mengajarkan kami tentang halal, haram, puasa, hijab, shalat, dan dan dan dan lain sebagainya.   Namun, barangkali nanti kami bisa kembali kepada AGAMA setelah meneguk dunia dan apapun yang ada di dalamnya."  

Bertemulah mereka dengan sosok terakhir yang benar-benar mengharuskan mereka berhenti dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.  

Sosok tersebut berkata kepada sang suami:  
"Perjalanan ini akan berakhir disini. Engkau mesti turun dan ikut bersamaku."  

Sang suami tak bisa berbuat dan berkata apa-apa. Sosok tersebut kemudian bertutur:  
"Aku mencari AGAMA. Apakah dia bersamamu saat ini?"

Sang suami berkata:  
"Aku meninggalkannya baru saja. Biarkan aku kembali mengambil AGAMA dan menemuimu nanti bersamanya."  

Maka sosok tersebut menjawab:  
"Engkau tak akan mampu kembali karena perjalanan ini telah berakhir dan kembali lagi adalah suatu hal yang amat mustahil."  

Sang suami berrkilah:  
"Tunggu, tapi di dalam mobilku ada HARTA, KEMAMPUAN, ISTRI dan ANAK-ANAK dan dan dan…"  

Sosok tersebut menukas:  
"Apakah tak cukup sedikitpun Allah bagimu? Engkau biarkan dan tinggalkan AGAMA di jalan."  

Sang suami bertutur: Lantas engkau ini siapa?"  

Sosok menjawab:   "Aku adalah kematian yang dahulunya engkau lalaikan dan tak kau duga-duga kedatangannya."  

Lantas sang suami menoleh sejenak ke arah mobilnya. Istrinya mengambil alih untuk menggantikannya mengendarai mobil tersebut.   Mobil yang berisi ISTRI, ANAK-ANAK, HARTA, KEDUDUKAN, dan kenikmatan dunia itu pun berlalu meninggalkan dia seorang diri.

(Dan penggalan episode ini telah berakhir)

Partisipasi Politik Pemilih Pemula di Indonesia

Partisipasi Politik Pemilih Pemula di Indonesia
(Oleh: ZA)


Tinggal menghitung hari saja hajatan akbar pesta demokrasi di negara muslim dengan populasi terbesar di Dunia akan digelar, tepatnya pada tanggal 9 April tahun 2014 nanti Indonesia kembali akan melaksanakan Pemilu untuk memilih anggota DPR dan DPD dan selanjutnya pada bulan 9 Juli 2014 akan diselenggarakan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung untuk ketiga kalinya.

Menjelang pelaksanaanya terdengar riuh-rendah akademisi dan politisi yang mempertanyakan keabsahan pelaksanaan Pemilu yang akan diselenggarakan pada tahun ini, mengingat Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 yang digunakan sebagai payung hukum pelaksanaan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden telah dinyatakan oleh MK bertentangan dengan UUD 1945, meskipun dalam amar pututsannya MK menyatakan keputusan tersebut baru berlaku pada tahun 2019.  Prof.Yusril Ihza Mahendra berulang kali  mengingatkan melalui akun twitternya bahwa hasil Pemilu 2014 ini berpotensi untuk dipertentangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan karena legalitasnya yang lemah, sehingga berbahaya bagi kestabilan pemerintahan 5 tahun kedepan.

Terlepas dari beberapa permasalahan diatas toh jika Pemilu 2014 tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal dan sistem yang telah ditetapkan sebelumnya ada beberapa hal menarik yang perlu  kita amati yaitu betapa pemilih muda menjadi pasar yang sangat menggoda untuk diperebutkan oleh Parpol peserta Pemilu 2014, setidaknya ada 60% peserta pemilu berada pada rentang umur 17-45th[1]. Lebi lanjut jika kita ingin persempit lagi kategori “muda” yang kita maksud lebih kepada first time vooter di Indonesia maka setidaknya ada 40 Juta (20-30%)[2] anak muda dengan rentang usia 17-24th akan mengambil peran sebagai pemilih pemula.

Pemilu, sebagai buah dari demokrasi sebagaimana yang lazimnya kita fahami merujuk pada argumen dari Linclon (1963) prinsipnya seharusnya “by the people, rule the people and for the people”. Akan tetapi, kecenderungan yang terjadi pada saat ini, kita hanya baru menikmati demokrasi seremonial, dan kehilangan substansi dari demokrasi itu sendiri, sehingga dikahwatirkan rakyat sebagai pemilih hanya dijadikan subjek demokrasi saja, perantara meraih kekuasaan melalui pendekatan kuantitatif semata.

Alhasil para pemilih muda sebagai satu “potential market” pada Pemilu 2014 mendatang memang akan diramalkan  antusias mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) guna melaksakan hak untuk memilih pertama kali dalam hidupnya, karena memang sudah hakikatnya kaula muda senang mencoba hal-hal baru, seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, kendaraan pertama, rumah pertama,  yah segala macam yang serba pertama selalu menarik dimata kaula muda.   Akan tetapi yang patut kita catat bahwa kecenderungan partisipasi politik para first time vooter tersebut masih sebatas budaya politik parokial-kaula semata, sebagian kaum muda ketinggalan disegi dalam penggunaan hak secara “utuh” dan juga masih kurang memiliki rasa memikul tanggung jawab politiknya sebagai warga negara yang baik, karena masih kurangnya kematangan mereka dalam memahami politik, dan memandang pemilu hanya sebatas sarana memberikan suara mereka kepada tokoh/partai yang sedang “nge-hits” atau sedang mereka gandrungi pada saat itu.

  Gayungpun bersambut, rendahnya budaya politik para pemilih juga dibarengi dengan orientasi bias para politisi. Hingga saat ini tak berlebihan rasanya jika kami katakan bahwa Partai Politik baru memandang Pemilu sebagai sarana untuk meraih “orgasme kekuasaan”. Minimnya kesadaran parpol dalam hal: kejelasan ideologi dan prinsip yang ditawarkan; melakukan pembinaan politik yang baik pada basis konstituennya; serta bekerjanya mesin kaderisasi kaum intelektual pada internal partainya dengan baik, menjadi indikator pembuktian dari pedapat kamidiatas. Alhasil, guna mendulang suara sebanyak-banyaknya, promosi partai dan bakal calon anggota legislatif ala “iklan rokok” ramai menghiasi berbagai media, elegan, menarik, dan begitu menggoda para konsumen tanpa faham bahwa yang ditawarkanya tak lebih dari racun belaka.
       
       Para pemilih muda sebagai genarasi yang digadang-gadangkan akan menjadi pembaharu bangsa seharusnya benar-benar memanfaatkan momentum Pemilu ini dengan baik. Diharapkan pihak penyelenggara pemilu (KPU) disisa waktu yang sempit ini mau untuk serius memberikan pendidikan politik yang ideal kepada seluruh elemen masyarakat, agar partisipasi politik tidak hanya sebatas partisipasi politik parokial saja akan tetapi lebih dari itu mampu memberikan kontribusi positif kepada perkembangan demokrasi di negara kita. Kemudian Parpol juga diharapkan mau berbenah diri guna menyehatkan iklim demokrasi dinegara kita.

Perlu kita ingat bahwa Pemilu merupakan satu proses penting dalam siklus pelaksanaan demokrasi konstitusional di negara kita. melalui demokrasi yang pendekatannya kuantitatif maka Pemilu menjadi jalan untuk melahirkan wakil-wakil rakyat yang akan melaksanakan mandataris penyelenggara kedaulatan rakyat sebagai mana termaktum pada pasal 1 ayat (1) UUD 1945, lebih lanjut sistem demokrasi tersebut akan bertemu dengan nomokrasi yang pendekatannya melalui logika dan norma-norma yang dibakukan menjadi hukum, dan para wakil rakyat tersebutlah yang kemudian mengeluarkan produk hukum (fungsi legislasi) sebagai wujud dari nomokrasi tersebut sehingga lahirlah negara Indonesia yang menganut demokrasi konstitusional.

Oleh karena itu kita berharap para pemilih muda mampu memberikan warna dalam perjalanan bangsa kita dengan menggunakan hak politiknya dengan baik dan benar, sehingga iklim pemerintahan kita kedepannya akan semakin baik lagi.

Semoga.












.  




[1] Data Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA) pada tulisannya pada portal berita www.kompas.com 30 Januari 2014
[2] www.antaranet.com “pemilih pemula potensi besar & sosialisasi program belum merata 2 jan 2014

ADAM SMITH: KONTRIBUSI PEMIKIRANNYA TERHADAP EKONOMI-PEMERINTAHAN


KONTRIBUSI PEMIKIRAN EKONOMI-PEMERINTAHAN
ADAM SMITH


Tidak ada seni yang mudah dipelajari oleh pemerintah kecuali seni menguras duit penduduk (adam smith dalam bukunya The wealth of nations).
 Mendengar kata-kata ini mengingatkan kita kepada seorang pemikir besar yaitu seorang filsuf yang bernama john adam smith yang sering dipanggil adam smith. John adam smith lahir di kirkcaldy, skotlandia 5 juni. ”. Adam Smith juga punya nama biasa. Nama pertamanya diambil dari Bible, Adam, yang berarti ”dari banyak”, dan nama belakangnya, Smith, berarti ’orang yang bekerja’. Smith nama keluarga yang paling umum di Great Britain. Bahkan, ayah Adam Smith juga bernama Adam Smith. Demikian pula dengan sepupunya Dia adalah seorang filsuf berkebangsaan skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern.
Pada umur 13, Smith memasuki Universitas Glasgow, dimana dia belajar  filosofi moral dabawah “Si Orang yang tidak boleh dilupakan” (sebagaimana Smith memanggilnya) Francis Hutcheson. Di sini, Smith mengembangkan keinginan kuatnya akan  kebebasan, akal sehat, dan kebebasan berpendapat. Tahun 1740 dia dianugrahkan Snell Exebition dan memasuki Kampus Balliol, Oxford, tetapi seperti William Robert Scott katakana , “ Universitas Oxford dalam masanya memberikan sedikit jika bantuan manapun yang diberikan apa yang harusnya merupakan kerja seumur hidupnya”, dan dia meninggalkan Universitas itu pada tahun 1746. Dalam buku ke V dari The Wealth of Nations, Smith berkomentar  pada intruksi kualitas rendah dan aktivitas intelektual yang berjumlah sedikit dibandingkan dengan di  Skotlandia. Komentarnya ditunjukkan pada orang-orang yang dianugrhi kekayaan  dari kampus-kampus Oxford dan Cambridge, dimana membuat pemasukan dari para profesor tidak  berdasarkan pada kemampuan mereka  untuk menarik murid, dan  pada fakta bahwa orang-orang yang menyaru Men of Letters bisa menikmati kehidupan lebih nyaman dari menti di Church of England.
Karyanya yang terkenal adalah buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of Nations) adalah buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme.
Adam Smith adalah salah satu pelopor sistem ekonomi Kapitalisme. Sistem ekonomi ini muncul pada abad 18 di Eropa Barat dan pada abad 19 mulai terkenal disana

PANDANGAN ADAM SMITH TERHADAP ILMU EKONOMI
Adam Smith dikenal luas dengan teori ekonomi ”Laissez-Faire” yang megumumkan perkumpulan di abad 18 Eropa. Smith percaya akan hak untuk mempengaruhi kemajuan ekonomi diri sendiri dengan bebas, tanpa dikendalikan oleh perkumpulan dan atau negara. Teori ini sampai pada  proto-industrirelisasi di Eropa, dan mengubah mayoritas kawasan Eropa menjadi daerah perdagangan bebas membuat kemungkinan akan adanya pengusaha. Dan adam smith memandang pembangunan ekonomi sebagai proses pertumbuhan ekonomi dan perkembangan ekonomi dengan memanfaatkan mekanisme pasar. Suatu perekonomian akan tumbuh dan berkembang jika mekanisme pasar berjalan baik dan sempurna. Syarat yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adalah investasi dan spesialisasi yang kontrol malalui mekanisme pasar.
Adam smith mengemukakan tiga unsur utama dalam proses pertumbuhan hasil produksi, yaitu sebagai berikut :
a.       Sumber daya manusia yaitu pertmbahan jumlah penduduk.
b.      pertambahan dalam persedian barang modal (akumulasi modal) karena tabungan masyarakat diinvestasikan oleh pemilik modal  dengan harapan memperoleh keuntungan.
c.       Spesialisasi dan pembagian kerja disertai perluasan pasar dan perkembangan perdagangan dalam negeri maupun internasional.

Adam Smith berpendapat bahwa usaha bebas yang kompetitif yang mengatur diri sendiri dan pemerintahan yang terbatas. Putra Skotlandia ini berpandangan optimis tentang masa depan dunia. Fokus utamanya adalah peningkatan individu melalui kesederhanaan dan prilaku yang baik, menabung dan berinvestasi, perdagangan dan divisi kerja, pendidikan dan pembentukan kapital, serta teknologi baru. Dia lebih tertarik untuk meningkatkan kemakmuran ketimbang membagi-bagi kemakmuran, dalam bukunya yang berjudul wealth of nations adam smith menekankan pada empat prinsip umum diantaranya penghematan, kerja keras, kepentingan diri yang baik, dan kedermawanan terhadap orang lain adalah kebajikan dan karena itu harus didukung.



KONTRIBUSI PEMIKIRAN ADAM SMITH DALAM EKONOMI PEMERINTAHAN

Menurut adam smith Pemerintah harus membatasi kegiatannya pada pengaturan keadilan, memperkuat hak milik privat, dan mempertahankan negara dari serangan asing. Di bidang ekonomi, negara harus mengadopsi kebijakan Laissez Faire nonintervensi yaitu perdagangan bebas, pajak rendah, dan birokrasi minimum.
Standar klasik emas akan mencegah negara mendepresiasi mata uang dan akan menghasilkan lingkungan moneter yang stabil di mana ekonomi bisa berkembang.
Smith juga memiliki tiga karakteristik dimana karakter-karakter itu yang nantinya akan memobilitasi laju ekonomi pasar. Diantaranya adalah, kepentingan, kebebasan diri, dan kompetisi.
Tiga pilar penting ini akan menciptakan suatu sistem unik, dimana laju ekonomi dengan sendirinya tertata, Adam Smith menyebutnya dengan ”invisible hand”.dalam teori yang dikemukakan Adam Smith, bahwa campur tangan pemerintah yang sangat minimal dapat mempercepat laju ekonomi atau bersifat liberal, saya rasa bukan berarti dia ”liberal” adalah tanpa aturan sama sekali, hanya saja aturan-aturan itu terbentuk dengan sendirinya karena pada dasarnya hak-hak pribadi kita juga dibatasi oleh hak-hak pribadi orang lain.
Invisible hand juga dapat dilihat melalui cara memperbaiki mekanisme pasar yang tidak sehat. Adam smith juga menekankan untuk mengunakan sistem meritokrasi dimana seseorang diangkat bekerja berdasarkan kemampuan dan bakatnya.
Adam smith menawarkan teori liberalis dimana semua orang berhak mengejar keuntungan pibadi hingga dia dapat berkompetisi dan menghasilkan laju ekonomi yang baik.
Kemudian adam smith menitik beratkan kekuatan pasar bebas dalam spesialisasi produksi. Dengan spesialisasi produksi maka akan tercipta efisiensi dalam pasar. Spesialisasi yang dianut kaum klasik lebih condong dengan factor produksi lebih ke tenaga kerja. Sebenarnya spesialisasi ini yang akan membuat adanya distribusi yang sempurna dalam perekonomian yang sering disebut dengan nama invisible hand. Tanpa konsep ini system pasar tidak akan berjalan dengan baik. Konsep ini juga yang membuat berkembangnya pasar tumbuh seperti mahluk hidup yang dapat mencari nutrisi sendiri untuk kelangsungan hidupnya, nutrisi yang dimaksud adalah adalah inovasi dan efisiensi. Inovasi sangat erat kaitannya dengan kebutuhan konsumen akan barang dan jasa dan efisiensi adalah suatu keharusan yang harus dilakukan oleh produsen dalam pasar persaingan sempurna. Dengan kedua hal ini maka distribusi kebutuhan maupun pedapatan akan merata dan tingkat hidup dalam masyarakat akan meningkat. Oleh sebab itu dalam pasar pesaingan sempurna peran pemerintah hanya sebagai pengawas maupun regulator jika pemerintah turut campur dalam pasar maka akan terjadi disekulibrium dalam pasar dan pada akhirnya inovasi maupun efisiensi tidak akan tercapai. Mungkin inilah yang membuat para pemikir ekonomi sampai saat sekarang masih terpesona dan masih percaya tentang ekonomi pasar bebas dan masih mempercayai bahwa spesialisasi adalah distributor kesejahteraan yang paling utama dalam pasar bebas. Oleh sebab itu sampai sekarangpun masih banyak teori yang berlandaskan pada prinsip spesialisasi.
AKHIR PERJALANAN JOHN ADAM SMITH

John Adam Smith  – meninggal di Edinburgh, Skotlandia, 17 Juli1790 pada umur 67 tahun) Penerus Smith meliputi para pakar ekonomi klasikseperti Rev. Thomas Malthus, Jean-Baptiste Say, David Ricardo, dan John Stuart Mill.
mereka menguji cara kelas bawah, kapitalis dan buruh memproduksi dan mendistribusikan penghasilan negara dan menguji efek populasi dan perdagangan international.
George Washington adalah bapak bagi sebuah bangsa baru, sedangkan  Adam Smith adalah bapak bagi ilmu baru, yakni ilmu kemakmuran. Ekonomi besar bagi Inggris Alfred Marshall menamakan ekonomi sebagai studi tentang ”Usaha biasa dalam kehidupan.






Apa yang bisa ditambah kepada orang yang berbahagia, sehat, bebas utang, serta memiliki hati nurani yang bersih?”” adam smith (1723-1790).