Showing posts with label Humaniora. Show all posts

Florence, Pak Jokowi dan Sujudin yang Meninggal di SPBU

Florence, Pak Jokowi dan Sujudin yang Meninggal di SPBU

Beberapa hari terakhir sepertinya publik tanah air dibuat  terperangah dengan dengan berbagai rentetan peristiwa yang memaksa kita untuk kembali menghela nafas panjang, merenung dan kemudian menyadari bahwa kita perlu segera berbenah.

Diawali dengan kasus Florence ‘Ratu SPBU’ dari Jogja, yang karena merasa tidak terima dengan perlakuan petugas yang menolak mengisi BBM karena ia dengan sadar MEMOTONG jalur antrian, dengan ringannya mengumpat masyarakat Jogja dan  Sultan melalui akun sosial Path dan Twitter, tentu saja tindakan Vandalisme Verbal tersebut menyulut kemarahan masyarakat Jogja. Sebenarnya memenjarakan Flo tak bijak juga, karena masih banyak Florence-Florence lain di Indonesia, yang menjadikan akun Sosial sebagai “kotak sampah” pribadinya, padahal jika berbicara ranah sosmed, kita tidak mengenal istilah privasi, semua informasi beredar secara sporadis. Belajar dari Flo, kita harus lebih bijak menggunakan jejaring sosial, terutama semenjak adanya UU ITE yang sedikit “membelenggu”, tetapi memang pada khitahnya bukankah Prof.Noorsyam sudah menjelaskan bahwa filsafat Hak Asasi Manusia di Indonesia disandarkan kepada Kewajiban Asasinya.

Beralih dari Florance 'Ratu SPBU', masih seputar BBM, beberapa hari belakangan publik juga dibuat galau dengan manuver yang dilakukan oleh Presiden terpilih kita Ir.Jokowidodo, beliau secara tersirat “membujuk” Presiden SBY ketika bertemu di Bali untuk mau menanggung beban politik untuk mengurangi subsidi BBM sebelum Pak SBY lengser keprabon. Hal ini cukup menarik karena 10 tahun belakangan kita meyaksikan bahwa PDI-P merupakan partai yang paling getol menolak kenaikan harga BBM. Manuver ini seakan meruntuhkan argumentasi yang telah dibangun bertahun-tahun oleh Partai berlambang banteng ini tentang bahwa mengurangi subsidi bbm bukan langkah terbaik dalam menutupi devisit APBN, banyak alternatif lain yang bisa dilakukan, publikpun bertanya dimana kini alternatif yang pernah disebut-sebut banyak tersebut?.
       
           BBM sebagai sumber energi yang teramat vital memang menjadi isu strategis dibelahan bumi manapun, termasuk di Indonesia, Isu ketahanan energi memang tak pernah kehilangan pesonanya. Ketahanan energi, paling sederhananya, berhubungan dengan mengamankan energi masa depan suatu bangsa dengan cara mendapatkan sumber daya energi yang stabil dan berkecukupan dengan harga terjangkau. Terdengar cukup sederhana namun di bawah permukaan definisi simpel ini terselubung gunung persoalan yang kompleks yang harus kita pecahkan. Kegagalan untuk melakukannya berisiko membahayakan masa depan energi kita untuk jangka waktu yang lama.

Mari penulis jelaskan  maksud dari kata “membahayakan” diatas: Konsumsi energi primer kita telah meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2000 hingga 2010. Kini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia sekitar 1,2 juta barel per hari, sedangkan tingkat produksinya berkisar 900 ribu barel per hari sehingga sisanya dipenuhi dari impor.

           Dari sisi cadangan, pada akhir 2011, total cadangan minyak Indonesia hanya sekitar 2 persen dari cadangan total minyak dunia yang mencapai 1.652 miliar barel. Saat ini, cadangan minyak terbukti di Indonesia 3,6 miliar barel, dan 53 persen sisa cadangan itu terletak di lapangan-lapangan skala besar. Sejauh ini cadangan minyak nasioanl terus terkuras. Pda 2012, rasio cadangan minyak terhadap produksi hanya 52%. Padahal, semestinya setiap produksi 1 barel miyak digantikdan temuan cadangan minyak dengan jumlah yang sama pula.

Dibawah kepemimpinan Presiden baru, diharapkan pemerintah kita bisa lebih “move on” dari ketergantungan BBM dan bisa fokus dalam mengembangkan energi alternatif dan perbaikan infrastruktur yang menjadi tulang punggung bagi transportasi kebutuhan pokok penduduk Indonesia. Kita harus faham bahwa cadangan minyak kita tak sekokoh Rusia maupun Iran, oleh karena itu MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Perkembangan Ekonomi Indonesia) harus di drive untuk pengembangan energi alternatif disetiap kawasan, serta membangun infrastruktur transporasi masal yang lebih terjangkau dan tak bergantung pada BBM. Pembangunan jalur kereta api trans-Sumatera, Kalimantan, Sulawei dan Papua,serta pembangunan pelabuhan barang harus segera dirintis, sehingga distribusi komoditas barang-barang pokok tidak lagi bertumpu pada jalur darat konvensional (Bus/Truk), sehingga pengurangan subsidi BBM tidak lagi memicu inflasi yang merepotkan masyarakat menegah kebawah.

Kisah terkahir ialah mengenai Pak Sujudin di Kediri, ia merupakan sebuah balada pilu yang menjadi pertanda siaga merah bagi kita, pemerintah, untuk segera membenahi pengelolaan energi di Negri ini. Pak Sujudin merupakan korban meninggal pertama karena kelangkaan BBM di Indonesia, ia berpulang kerahmatullah saat sedang mengantri di SPBU pada Sabtu 30/08/2014. Dibawah kepemimpinan pemerintahan yang baru, publik tentu berharap dan mendoakan, nahkoda baru kita Bapak Ir.Jokowidodo dapa membenahi permasalaha yang krusial ini.

Semoga saja..

Wasalam.(Bang Zul)




PEMILU 2014 DAN WABAH VANDALISME VERBAL

Pemilu 2014 dan Wabah Vandalisme Verbal
Oleh: Zulfikri Armada

Jujur saja sebenarnya penulis tidak terlalu berminat untuk turut serta mengomentari, apalagi sampai berletih-letih merecoki segala dinamika seputaran permasalahan Pilpres dari mulai pencalonan hingga persengketaan di MK pada tahun ini, selain karena memang banyak hal lain yang harus dilakukan dan juga karena sedari awal penulis berpendapat bahwa mekanisme pemilihan yang ada tidak menyokong sistem presidensil murni (Baca: Penyederhanaan Mekanisme Pemilu dan Pemilukada). Namun melihat perkembangan yang ada akhirnya penulis menyerah untuk pura-pura menutup mata.

Yang paling meresahkan dari pemilu 2014 ini adalah bukan tentang kelemahan atau berbagai kekurangan yang ada dalam pelaksanaanya. Tetapi, berkembangnya pemandangan umum soal begitu masivnya masyarakat yang mulai terbiasa untuk saling melemparkan kecaman dan hujatan,  diberbagai media sosial seperti facebook dan twitter terhadap orang-orang yang berseberangan pandangan dan pilihan politiknya. Bullying dalam bentuk vandalisme verbal ini tak tanggung-tanggung, saling hujat antar pendukung bahkan secara terbuka menjadikan kedua pasang capres-cawapres yang berkompetisi dalam pemilu sebagai objek atau target dari berbagai kata-kata tercela.


Pada galibnya, perbedaan pandangan antar individu maupun kelompok dalam negara demokrasi adalah sebuah pemandangan yang ajek dan umum yang harus dihargai dan dijunjung tinggi. Fenomena yang berkembang saat ini justru memperlihatkan secara gamblang bahwa secara kuantitatif Indonesia boleh diakui dunia sebagai negara Demokrasi muslim terbesar di Dunia, akan tetapi secara kualitatif-substantif pelaksanaan kehidupan berdemokrasi kita masih begitu prematur dan belum kokoh. Masyarakat masih menikmati pemilu seperti layaknya kontes idol-idolan, partisipasi politiknya seperti gaya suporter sepak bola yang tak terdidik, fanatis mendadak, kontraproduktif dan  minim kearifan.

Ada sebuah kutipan menarik dari filsuf Jerman ,Wittgenstein, bunyi kutipannya seperti ini, "Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt," yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia artinya, "Batas Bahasaku adalah batas duniaku." Sebuah ungkapan yang sangat filosofis tentunya, tetapi memang begitulah adanya.

            Kita sadari atau tidak, bahasa merupakan unsur terpenting dalam perjalanan peradaban umat manusia, dengan bahasa kita dapat mengkomunikasikan ide, gagasan dan pendapat kepada orang lain, untuk menjalin kerjasama dalam membentuk sebuah peradaban. Tanpa kemampuan berbahasa, mungkin tidak akan pernah tercipta peradaban manusia di Bumi ini.
I La Galilo, ditulis dengan aksara Bugis (Source:wikipedia)

Dalam khazahan berbahasa kita, dunia mencatat bahwa Indonesia adalah bangsa beradab dalam bertutur tulis dan bertutur kata. Karya sastra Sureq I La Galigo dari Tanah Bugis, Sulawesi Selatan yang kini sebagian naskah aslinya (manuskrip) ‘ditahan’ di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en VolkenkundeLeiden, Belanda merupakan masterpiece di jagad sastra. Sureq I La Galigo adalah karya sastra terpanjang di dunia, bahkan mengalahkan kisah Mahabarata dari India. Sureq I La Galigo merupakan kristal keadaban tutur kata dan tutur tulis yang diakui dunia. Sureq I La Galigo bukti otentik betapa tinggi peradaban bangsa Indonesia di bidang kesusasteraan. Ia mestinya terpelihara ke dalam aliran darah bangsa Indonesia hingga hari ini.

            Perjalanan panjang leluhur kita bangsa kita yang begitu berperadaban semoga mampu menjadi refleksi bagi kita untuk sama-sama mendewasakan diri dalam keteduhan hidup berbangsa dan bernegara. Indonesia dengan sejarahnya yang panjang seharusnya bisa menjadi role model dalam kehidupan berdemokrasi bagi dunia internasional.

Begitu besar harapan penulis bahwa tone negatif dalam komunikasi politik kita pada saat ini hanyalah letupan-letupan kecil yang sifatnya temporer saja. Setelah putusan MK telah sama-sama kita dengar, penulis mengajak semua elemen masyarakat mau untuk beristighfar dan kembali ke jalan yang benar. Membuang jauh-jauh berbagai koleksi umpatan, lalu merapatkan barisan untuk kembali menapaki jalan menuju bangsa besar yang berperadaban.

MENJADI KARTINI YANG CUT NYAK DIEN

Menjadi KARTINI yang CUT NYAK DIEN
(Oleh: Zulfikri Armada, S.IP)



Mengenal Kartini dan Cut Nyak Dien
           
R.A. Kartini dan Cut Nyak Dhien
            Pada tanggal 21 April nanti, Perempuan disegenap penjuru tanah air akan memperingati kembali hari lahir salah seorang sosok/ikon atas perjuangan emansipasi wanita di Indonesia. Sosok tersebut tidak lain dan tak bukan adalah Raden Ajeng Kartini. Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak kita ialah syapa sebenarnya R.A. Kartini ini.
           
            R.A. Kartini lahir di Desa Mayong Kabupaten Jepara pada tanggal 21 April 1879, Ia adalah putri dari seorang Bupati dan hidup berkecukupan layakanya seorang bangsawan. Saat kecil, Kartini dimasukkan ke sekolah elit orang-orang Eropa yaitu Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah itulah, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa, sehingga Kartini mempunyai modal untuk bisa membaca dan menulis.
           
            Kemampuannya untuk mengejawantahkan pemikiran serta kritiknya atas situasi sosial-budaya-agama yang dihadapinya kedalam tulisanlah yang selanjutnya membuat Kartini di Kenang. Hasil korespodensi surat antara kartini dengan sahabat penanya di Belanda yang sebagian berisikan kritik dan kegelisahan hati atas budaya Jawa yang membatasi ruang gerak wanita (memingit mereka didalam rumah saja), sehingga Kartini merasa kaum wanita termarjinalkan dalam hal pendidikan dan kehidupan sosial. Kumpulan surat-surat Kartini tersebutlah yang kemudian disusun oleh Mr. J.H. Abendanonmenamai, dan diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini kemudian diterbitkan pada tahun 1911.

            Kemudian, selain RA Kartini, ada juga Srikandi Indonesia lainnya yang patut kita tauladani, beliau adalah Cut Nyak Dhien. Lain halnya dengan R.A. Kartini, perjuangan Cut Nyak tidak sebatas emansipasi wanita semata, tetapi yang ia perjuangkan lebih luas daripada itu, ia berjuang demi kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa Indonesia dari Imperialisme Kaphee Belanda (Sebutan Cut Nyak bagi orang Belanda) secara utuh, baik lahiriah maupun bathiniah. Cut Nyak lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848. Dari keturunan bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar.

Ketika Perang Aceh meluas tahun 1873, Cut Nyak Dien memimpin perang di garis depan, melawan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap. Setelah bertahun-tahun bertempur, pasukannya terdesak dan memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil. Dalam pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim gugur.

Mendapatkan cobaan sebegitu hebat, Cut Nyak seakan tak gentar, semangatnya tetap berapi-api untuk mengusir Kaphee Belanda dari Indonesia. Ia terus melanjutkan perjuangan dengan Suami Keduanya Teuku Umar. Beliau terus bertempur hingga dimasa tuanya ia tertangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Sumedang Jawa Barat.

Kedua sosok Srikandi Indonesia tersebut sebenarnya telah memberikan pesan kepada para kaum Hawa tentang konsepsi emansipasi wanita yang ideal. Yang satu bergerak melalui pemikiran dan pendidikan, yang satunya lagi bergerak dalam kancah pengimplementasian gagasan dan cita-cita secara lebih konkrit da nyata.


Emansipasi VS Kesetaraan Gender

Jika dilihat dari  sejarah,    konsep ”Emansipasi “  itu muncul sejak  adanya Deklarasi  Hak-Hak Azazi Manusia pada  tahun 1984, karena pada saat itu perlakuan dari kaum laki-laki yang saat mendominasi dan memarjinalkan perempuan, maka pada tahun 1963  melalui badan Ekonomi PBB (ECOCOC) konsep Emansipasi ini dideklarasikan. Dilanjutkan dengan  World Conference International Year of women PBB di Mexico City tahun1975, muncul beberapa ketentuan tentang  persamaan hak yang diinginkan antara lain tentang; pendidikan, pekerjaan, pembangunan bagi kaum perempuan, partisipasi dalam pembangunan, tersedianya data dan informasi perempuan serta analisis perbedaan peran berdasarkan jenis kelamin, dan untuk mewadahi aktifitas kegiatannya dilakukan melalui  Women In Development (WID). 

Dalam konteks Indonesia baik secara kultur maupun kelembagaan sebenarnya kita tidak terlalu asing dengan konsep emansipasi. Catatan sejarah menyatakan bahwa kerajaan Majapahit yang kekuasaanya meliputi hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa dibagian utara dan Madagaskar di barat, ternyata dalam silsilahnya pernah dipimpin oleh 2 dua perempuan masing-masing “Tribhuwanatunggadewi (1328-1350) M”. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.

Emansipasi artinya memberikan hak yang sepatutnya diberikan kepada orang atau sekumpulan orang di mana hak tersebut sebelumnya dirampas atau diabaikan dari mereka. Dimana refleksi emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini adalah untuk membawa perubahan besar kepada perempuan Indonesia, yaitu perjuangan menuntut hak pendidikan bagi perempuan. Karena kita ketahui bahwa dizaman dahulu, pendidikan bagi perempuan ataupun kaum pribumi adalah hal yang sangat tabu dan sangat susah untuk dicapai.  Begitupun dengan Cut Nyak Dien yang maju sebagai tokoh sentral dalam usaha mempertahankan harkat dan martabat dari penjajahan kaum Belanda hinnga titik darah penghabisan, tidak hanya bagi kaumnya tetapi seluruh bangsa Indonesia dalam satu kebulatan.

Sedangkan kesetaraan gender adalah suatu keadaan setara dimana antara pria dan wanita dalam hak (hukum) dan kondisi  (kualitas hidup) adalah sama. Gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dan peran gender terbagi menjadi peran produktif, peran reproduksi serta peran sosial kemasyarakatan.

Dari pemaparan diatas jelas tampak perbedaan antara emansipasi dan kesetaraan gender. Dewasa ini banyak kaum feminist yang menggembar-gemborkan kesetaraan Wanita dan Pria. Menurut penulis dari tinjuan teologis dan kulutral wanita tidak bisa berpaling dari kodratnya sebagai wanita seutuhnya, yaitu peran ia sebagai seorang istri dan seorang ibu, yang tentu saja fungsi tersebut merupakan unifikasi alamiah yang diamanahkan Tuhan kepada kaum hawa. Pria dan Wanita tentu saja boleh dipandang sebagai partner yang sejajar hak dan kewajibannya, akan tetapi menyamakan secara total seluruh hak, kewajiban dan peranan antara Pria dan Wanita tentu saja sebuah kesalahan sintesis dalam berfikir.  Spirit emansipasi yang harus kita pelihara dewasa ini adalah perlawanan terhadap budaya “kolot” yang tak memberikan banyak hak kebebasan perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri dan spirit tentang penghilangan diskriminasi bagi perempuan. Sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Kartini dan Cut Nyak.


Peringatan Hari Kartini, hiruk-pikuk tanpa esensi

            Dalam Islam perempuan diwajibkan menggenakan jilbab, hal ini menurut penulis, secara tersirat merupakan revolusi besar terhadap cara seluruh semesta memandang wanita. Dahulu dizaman jahiliah wanita hanya dijadikan objek keindahan dan pelampiasan hasrat durjana dari kaum Pria. Kemudian Islam datang memberikan antithesa atas kesesatan yang telah terjadi, Wanita diagungkan kedudukannya, jilbab selain kewajiban, juga merupakan pesan bahwa wanita tidak boleh dipandang sebagai objek keindahan karena fisiknya semata, tetapi yang harus diutamakan dan dihormati adalah akhlaq, budi-pekerti, pemikiran, idealisme serta visi kehidupan yang ia punya.
           
            Begitupun selanjutnya dengan R.A Kartini dan Cut Nyak Dhien, perjuangan mereka menitikberatkan kepada perlawanan terhadap dehumanisasi baik itu kepada perempuan secara khusus dan keseluruhan elemen bangsa secara umum.

            Karena mampu membaca surat kabar dan majalah kartini bisa mengetahui berbagai macam kemajuan-kemajuan yang dimiliki oleh kaum wanita di Negeri Belanda, hal itulah yang menimbulkan dan membangkitkan pemikiran-pemikiran beliau. Karena semangat anti keterjajahan dan ideologi yang teguhlah lantas Cut Nyak Dhien tak gentar angkat senjata mengusir belanda. Pertanyaanya sekarang, lantas apa yang dilakukan perempuan-perempuan muda Indonesia dalam meperigati Woman’s Day (Hari Kartini)?

            Sebuah keprihatinan yang sangat mendalam bahwa sebagian besar hanya memperingatinya dengan berkebaya-ria dalam satu hari saja. Bahkan dilembaga pendidikan sebesar IPDN-pun tak luput dari perayaan tanpa esensi. Sudah menjadi sebuah tradisi setiap hari kartini akan diadakan pemilihan Putri Nusantra, yang katanya dinilai dari 3 aspek: brain, beauty, and behaviour. Sejarah kembali terulang wanita bangga dijadikan objek keindahan karena lahiriahnya, fisiknya, parasnya. Hal ini merupakan bentuk resistensi dari semangat Kartini maupun Cut Nyak Dhien yang berusaha mengeluarkan perempuan dari “kekolotan nilai” yang di-amini oleh masyarakat pada saat itu.

            Momen Hari Kartini pada tahun ini, semoga bisa menjadi titik renungan bagi seluruh kalangan, para feminist, pejuang emansipasi, dsb. Untuk kembali mendudukkan spirit emansipasi ketataran ideal sebagaimana yang diperjuagkan oleh para Srikandi Indonesia, perempuan Indonesia harus maju, perempuan Indonesia tentulah harus cerdas, ia boleh mengaktualisasikan dirinya, setinggi yang ia mau, tetapi jangan lupa tugas lebih penting lainya bahwa ia adalah calon ibu bagi anak-anaknya (garda terdepan dalam membina generasi, fondasi dari sebuah peradaban), ia adalah istri bagi suaminya (penopang dikala lelah, pendorong untuk mencapai asa), ia adalah matahari bagi peradaban Indonesia yang mandani.

Wanita Indonesia jangan ragu  untuk menjadi Kartini yang Cut Nyak Dhien! (ZA)



             




Suku Bangsa Provinsi Jambi



Jambi adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Jambi merupakan tempat berasalnya Bangsa Melayu yaitu dari Kerajaan Malayu di Batang Hari Jambi. Bahasa Melayu Jambi sama seperti Melayu Palembang dan Melayu Bengkulu, yaitu berdialek "o".

Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 0,45° Lintang Utara, 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10°-104,55° Bujur Timur. Di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, sebelah Timur dengan Selat Berhala, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu. Kondisi geografis yang cukup strategis di antara kota-kota lain di provinsi sekitarnya membuat peran provinsi ini cukup penting terlebih lagi dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah. Kebutuhan industri dan masyarakat di kota-kota sekelilingnya didukung suplai bahan baku dan bahan kebutuhan dari provinsi ini.

Luas Provinsi Jambi 53.435 km2 dengan jumlah penduduk Provinsi Jambi pada tahun 2010 berjumlah 3.088.618 jiwa (Data BPS hasil sensus 2010).

Suku Bangsa di Jambi
Masyarakat Jambi merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari masyarakat asli Jambi, yakni Suku Melayu yang menjadi mayoritas di Provinsi Jambi. Selain itu juga ada Suku Kerinci, suku batin, Suku Penghulu, Suku Anak Dalam (Kubu), Suku Bajau, dan Suku Pindah. Selain itu juga ada pendatang yang berasal dari MinangkabauBatakJawa,  Sunda Cina, India dan lain.

1.    SUKU (MELAYU) JAMBI
Wilayah          : Seluruh kabupaten di provinsi Jambi
Populasi        : ±1.100.000
Bahasa          : (Melayu) Jambi

2.    SUKU KERINCI
Wilayah          : Kabupaten Kerinci, Jambi
Populasi        : ±320.000
Bahasa          : Kerinci

3.    SUKU BATIN
Wilayah          : Provinsi Jambi di bagian pedalaman pulau Sumatera
Populasi        : ±72.000
Bahasa          : (Melayu) Jambi

4.    SUKU PENGHULU
Wilayah          : Kabupaten Sarolangun Bangko, Kabupaten Bungo Tebo,    Jambi.
Populasi         : ±25.000
Bahasa           : (Melayu) Jambi, Minang.

5.    SUKU ANAK DALAM (KUBU)
Wilayah          : di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan
Populasi        : ±20.000
Bahasa          : Kubu


6.    SUKU BAJAU (JAMBI)
Wilayah          : Pesisir pantai provinsi Jambi.
Populasi        : ± -
Bahasa          : Bajau

7.    SUKU PINDAH
Wilayah          : Kabupaten Batang Hari, kabupaten Sarolangun Bangko, Jambi
Populasi        : ±20.000
Bahasa          : (Melayu) Pindah.



“STATUSISASI” VICKY PRASETYO, SEBUAH TRAGEDI PERADABAN



            Hampir seluruh orang yang mengikuti perkembangan media tidak asing lagi dengan nama yang satu ini, Vicky Prasetyo. Tunangan pedangdut cantik Zaskia Gotik ini  dalam beberapa hari belakangan konsisten wara-wiri mewarnai jagad infotainment dan berita Indonesia. Vicky mencuri perhatian masyarakat bukan hanya karena pertunangannya dengan Zaskia, bukan juga karena belakangan dia diketahui telah ditangkap oleh pihak Kejaksaan karena kasus penipuan, tetapi karena  bahasa yang dia gunakan begitu “unik”, dengan mantapnya Vicky memadu-padankan isitilah-istilah yang membuat dahi kita berkerinyit untuk dapat memahami satu-persatu apa yang sebenarnya ia maksudkan.

            Fenomena Vickynisme (Izinkan saya memakai istilah aneh ini), sebenarnya merupakan momen yang dapat kita jadikan bahan refleksi dan renungan bagaimana kita sebagai suatu bangsa diakui atau tidak akhir-akhir ini kurang lagi memperhaikan hasanah berbahasa yang baik dan benar. Menurut pakar linguistik dan tata bahasa dari Universitas Indonesia, Totok Suhardiyanto, sebenarnya mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan Inggris atau gado-gado itu menjadi fenomena umum. Dan percakapan itu biasa digunakan oleh pengamat, para intelektual, bahkan pejabat, Tapi sayang untuk kasus Vicky, dia hanya mengerti kulitnya saja. Vicky tidak berusaha memahami makna dari kata-kata yang ingin ia gunakan, dan hasilnya ia menjadi bahan tertawaan masyarakat.

            Ada sebuah kutipan menarik dari filsuf Jerman ,Wittgenstein, bunyi kutipannya seperti ini, "Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt," yang jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia artinya, "Batas Bahasaku adalah batas duniaku." Sebuah ungkapan yang sangat filosofis tentunya, tetapi memang begitulah adanya.

Ramadhan: Memanusiakan Manusia

        Tersebut lah kisah tentang seorang filsuf Yunani keturuan Turki bernama Diogenes of Sinope. Diogenes merupakan filsuf beraliran sinis yang merupakan salah satu mazhab yang berakar pada ajaran Sokrates, Diogenes terkenal dengan sikapnya yang sangat berani dan frontal dalam menyuarakan apa yang ada dalam pemikirannya sehingga Plato menjuliknaya sebagai “sokrates yang pemarah”.

Pada suatu ketika Diogenes mengamati kehidupan masyarakat Yunani pada masanya, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa sungguh masyarakat pada zamannya telah rusak, dengan segala kebudayaan dan adat-istiadat “barunya”, masyarakat hidup dalam semangat individualistik dan rasionalisme yang membabibuta. Mereka tidak lagi mempedulikan antara satu dengan lainnya, cenderung bersikap hedonis, materialistik dan oportunis. Setiap orang hanya berfikir bagaimana mencapai kebahagiaan masing-masing, tidak peduli berapa banyak aturan, norma dan etika yang harus mereka kangkangi, tidak peduli berapa banyak orang yang harus mereka korbankan demi memenuhi hasrat animalia mereka yang sadis.

Hal ini lah yang membuncahkan kegelisihan Diogenes, puncaknya pada suatu